Ki Hajar & Merdeka Belajar


Di halaman sekolah yang rindang, seorang anak menatap jauh melewati pagar, seolah ada sesuatu yang memanggil dari luar sana. Ki Hajar Dewantara mengajarkan kita untuk mendengar panggilan halus itu — panggilan kodrat anak yang ingin tumbuh sesuai jati dirinya, seperti padi yang mencari cahaya dengan tenang. Merdeka belajar, menurut beliau, bukan kebebasan tanpa arah, melainkan kebebasan yang dituntun dengan bijak agar anak bisa berkembang sesuai bakat dan zamannya.

Semboyannya yang terkenal, “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani,” memberi gambaran utuh tentang peran seorang guru. Di depan, guru memberi teladan; di tengah, ia menumbuhkan semangat bersama; dan di belakang, ia memberi dorongan agar anak berani melangkah. Dengan cara ini, anak-anak merasa dihargai: yang cepat tidak disombongkan, yang lambat tidak direndahkan. Semua diberi ruang untuk belajar sesuai kemampuannya.

Bagi Ki Hajar, pendidikan adalah soal menata lingkungan. Ada tiga pusat pendidikan: rumah, sekolah, dan masyarakat. Rumah adalah pangkuan pertama, tempat anak belajar kasih sayang dan keberanian untuk bertanya. Sekolah memberi jalan berikutnya: melatih akal, membiasakan kerja yang jujur, dan membangun keterampilan. Masyarakat menjadi halaman luas tempat anak belajar hidup bersama, menimbang hak dan kewajiban, serta memahami bahwa kebebasan harus diiringi tanggung jawab. Ketiganya harus berjalan seimbang agar pendidikan berhasil.

Merdeka belajar bukan berarti anak dibiarkan bebas tanpa batas. Anak tetap perlu pagar, tapi pagar itu bukan tembok pengurung, melainkan pagar yang menuntun. Pagar itu bernama adab: sopan santun, keberanian menolak yang salah, dan kerendahan hati untuk meminta maaf. Tanpa adab, ilmu bisa menjadi bumerang; dengan adab, ilmu menjadi cahaya yang bermanfaat.

Ki Hajar juga menekankan pentingnya memahami kodrat anak dan kodrat zaman. Kodrat anak adalah bakat, minat, dan sifat alami yang dimilikinya. Kodrat zaman adalah tantangan dan kebutuhan di masa tertentu. Tugas guru dan orang tua adalah menuntun anak sesuai kodratnya, sambil membimbing agar ia siap menghadapi zamannya.

Karena itu, sekolah menurut Ki Hajar bukanlah pabrik nilai, melainkan taman — Taman Siswa. Di taman ini, setiap anak diperlakukan sesuai keunikannya. Yang lemah dilindungi, yang kuat diajak menghadapi tantangan. Yang pendiam diberi kesempatan bicara, yang ramai diajak belajar mendengar. Guru bukan pemaksa, tetapi penuntun yang membantu anak menemukan jati dirinya.

Bahasa juga mendapat perhatian khusus dari Ki Hajar. Ia membela bahasa ibu sebagai dasar pendidikan, karena dari bahasa yang akrab anak merasa dihargai. Dari rasa dihargai itu, tumbuh keberanian untuk belajar hal-hal yang lebih luas. Baginya, pendidikan tidak boleh memutus anak dari masyarakatnya, sebab ilmu yang jauh dari kehidupan nyata akan kehilangan makna.

Dalam pandangan Ki Hajar, merdeka belajar adalah keseimbangan: ada belajar, ada bermain; ada kerja, ada istirahat. Anak-anak butuh ritme hidup yang sehat agar tumbuh dengan baik. Teknologi boleh dipakai sebagai alat bantu, tapi yang lebih penting adalah budi pekerti. Sebab pendidikan bukan hanya soal kecerdasan, tapi juga soal membentuk manusia yang berkarakter, jujur, dan bermanfaat.

Guru, dalam hal ini, punya peran yang sangat mulia. Kadang ia perlu berada di depan untuk melindungi, kadang ia berada di tengah untuk menumbuhkan semangat, kadang ia di belakang untuk memberi dorongan. Dengan begitu, anak merasa bebas tapi tidak sendirian; merasa aman untuk mencoba lagi, meski pernah salah.

Pada akhirnya, merdeka belajar adalah cara menjaga martabat manusia. Setiap anak berhak tumbuh sesuai dirinya, dan setiap guru berhak dihargai atas jerih payahnya. Merdeka belajar berarti melepaskan gengsi, memeluk kesederhanaan, dan merawat cita-cita dengan hati yang tenang. Sekolah pun kembali seperti rumah: tempat yang menenangkan, tempat belajar, sekaligus tempat menumbuhkan harapan.

Dari pemikiran Ki Hajar inilah, kita melangkah ke tokoh berikutnya, H.O.S. Tjokroaminoto, yang menghubungkan pendidikan dengan kesadaran sosial. Sebab pada akhirnya, merdeka belajar juga berarti merdeka untuk memikul tanggung jawab bersama.


Leave a Reply

Discover more from kangdamiri

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading